Berita yang dilansir oleh voanewskamis, 22 Desember 2011 mengenai tender pengadaan kapal selam untuk Indonesia yang dimenangkan oleh korea selatan (Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME)) memang sudah sesuai dengan rencana strategis (renstra) dan blue print pertahanan untuk meningkatkan minimal essential forces.

Salah satu poin terpenting dalam kontrak tersebut adalah transfer teknologi kapal selam itu sendiri, sehingga ketergantungan kepada pihak asing dalam pengadaan dan pengembangan alutsista yang selama ini terjadi khususnya kapal selam dapat diminimalkan kedepannya. serta secara tidak langsung turut memberi keuntungan dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional karena  dalam tender itu proses pembuatan kapal selam yang ketiga akan dilakukan di sarana PALGCOs di Surabaya, Jawa Timur.

Seperti yang kita tahu, Indonesia sudah lebih dari 50 tahun mengoperasikan kapal selam dalam jajaran TNI AL dan kini saatnya harus bisa membuatnya juga, guna memperkuat kapal selam kelas whiskey yang masih bertugas dimana jumlahnya sampai kini masih misteri. Idealnya, dengan pertimbangan luas wilayah, Indonesia masih perlu menambahkan sekira 39 unit kapal selam lagi. tidak dapat dipungkiri sebagai negara maritim keberadaan kapal selam mutlak diperlukan untuk menjaga kedaulatan NKRI. 

Salah satu kapal selam yang telah purna tugas dan dijadikan sebuah monumen di Surabaya

Pidato bung karno di atas kapal selam RI Tjandrasa pada 6 Oktober 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta,  “… Sekali menyelam, maju terus – tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah Sampai Akhir. “ 

Iklan
(function(g){if("undefined"!=typeof g.__ATA){g.__ATA.initAd({collapseEmpty:'after', sectionId:26942, width:300, height:250});}})(window);
var o = document.getElementById('crt-1630405594'); if ("undefined"!=typeof Criteo) { var p = o.parentNode; p.style.setProperty('display', 'inline-block', 'important'); o.style.setProperty('display', 'block', 'important'); Criteo.DisplayAcceptableAdIfAdblocked({zoneid:388248,containerid:"crt-1630405594",collapseContainerIfNotAdblocked:true,"callifnotadblocked": function () {var o = document.getElementById('crt-1630405594'); o.style.setProperty('display','none','important');o.style.setProperty('visbility','hidden','important'); } }); } else { o.style.setProperty('display', 'none', 'important'); o.style.setProperty('visibility', 'hidden', 'important'); }
var o = document.getElementById('crt-1184648461'); if ("undefined"!=typeof Criteo) { var p = o.parentNode; p.style.setProperty('display', 'inline-block', 'important'); o.style.setProperty('display', 'block', 'important'); Criteo.DisplayAcceptableAdIfAdblocked({zoneid:837497,containerid:"crt-1184648461",collapseContainerIfNotAdblocked:true,"callifnotadblocked": function () {var o = document.getElementById('crt-1184648461'); o.style.setProperty('display','none','important');o.style.setProperty('visbility','hidden','important'); } }); } else { o.style.setProperty('display', 'none', 'important'); o.style.setProperty('visibility', 'hidden', 'important'); }

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: